Pengaruh tayangan televisi yang menonjolkan pornografi dan pornoaksi, maraknya penjualan keping disk khusus dewasa serta kebebasan membuka situs pornografi di internet diduga semakin ‘meledakkan’ angka seks pra nikah yang dilakukan para remaja di Jawa Barat dan Daerah lain di Indonesia.
Demikianlah benang merah Diskusi Panel “Pengembangan Kesadaran Pemuda Terhadap Faktor Destruktif melalui Gerakan Anti Pornografi dan Pornoaksi” yang digelar di Islamic Centre Cirebon, belum lama ini.
Tampil sebagai pembicara Ketua Divisi Pemuda Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA) Arif Srisardjono S Sos, sosiolog dari STAIN Cirebon Prof Dr Abdullah Ali MA, dan Shakina Mirfa Nasution SE MApp.Fin juga dari ASA. .
Menurut Arif Srisardjono, angka seks pra nikah yang menghinggapi remaja di Jawa Barat diperkirakan lebih dari 40 persen, karena hasil survei tahun 2002 menunjukkan 40 persen remaja berusia 15-24 tahun telah mempraktekan seks pranikah.
Demikian juga survei Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005 di Jabodetabek didapatkan hasil lebih dari 80 persen anak-anak usia 9-12 tahun telah mengakses materi pornografi dari sejumlah media termasuk internet.
In: Hot News
24 Dec 2009Mengutip dari harian Surya, Sebagian remaja dan mahasiswa di Jawa Timur (Jatim) sudah berhubungan badan sebelum menikah. Beberapa di antara mereka terpaksa menikah belum cukup umur dan ada juga yang melakukan aborsi.
Hasil-hasil survei yang ‘mengerikan’ itulah antara lain yang mendorong pihak BKKBN Jatim mendirikan PIK-KRM (Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Mahasiswa) dengan menggandeng 50 PTN/PTS se Jatim.
Kepala BKKBN Jatim Muhammad Is, Kamis (30/7), mengatakan, PIK-KRM baru ada di Jatim. Pilot project ini kalau berhasil, akan diterapkan secara nasional.
Di Surabaya, PIK-KRM akan didirikan di sejumlah PT, antara lain di Unair, Untag, Unitomo, dan ITS. “Mahasiswa jadi sasaran, karena ada indikasi meningkatnya penyimpangan perilaku seksual di kalangan mereka,” jelas Is, usai Temu Remaja 2009.